Tampilkan postingan dengan label Cultivar edisi maret 07. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cultivar edisi maret 07. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2008

Tips Makan Durian Agar Tidak Mabuk

Tips Makan Durian Agar Tidak Mabuk

Pada umumnya masyarakat Indonesia tua-muda, besar-kecil sudah sangat mengenal buah durian baik dari aromanya yang sangat menyengat maupun dari bentuk fisiknya yang nampak “mengerikan”. Aroma dan bentuk fisik inilah yang menjadikan buah durian mudah dikenal dan kadang-kadang membuat orang mempunyai kenangan tersendiri dengan buah ini karena tersentak oleh aromanya yang sangat tajam saat buah tersebut dibuka dari kulitnya sehingga orang sulit untuk melupakan kenangan tersebut.

Bagi orang yang telah merasakan enaknya makan buah durian (kadang-kadang rasanya manis, sedikit pahit dan daging buah yang empuk) dapat membuat orang menjadi rindu untuk mencicipi buahnya jika musim durian telah datang. Kenangan inilah yang dapat membuat buah durian selalu dikenang orang disamping pengalaman terluka saat membuka buah durian karena tertusuk durinya yang tajam atau harus dengan perjuang yang berat untuk membuka buah tersebut.

Buah durian selain disantap langsung, dapat pula disantap saat makan nasi (buah durian menjadi pelengkap makan nasi). Durian (Durio zibethinus, Murr) termasuk famili Bombacaseae merupakan tanaman asli Asia Tenggara, terutama Indonesia. Di Indonesia, pusat keragaman genetiknya terdapat di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, kemudian menyebar ke seluruh wilayah di Jawa dan Sumatera sehingga tidak asing lagi bagi masyarakat.

Mencegah Mabuk

Durian memang buah yang menarik untuk dibicarakan. Jika dilihat bentuk fisiknya terlintas duri-duri yang menakutkan dan siap untuk menancap. Tetapi setelah dibelah dan terlihat isinya, sangat berbeda dengan bentuk fisiknya yang keras, berduri. Isi durian yang matang, dagingnya lunak, manis, sedikit pahit, dan menebarkan aroma yang “khas”. Buah durian mempunyai keragaman terhadap aroma dan rasa daging buahnya. Selera manusia juga berbeda terhadap aroma dan rasa daging buahnya.

Ada kelompok yang hanya ingin mencoba saja rasa daging buahnya, kelompok ini tidak tergolong “maniak durian” tetapi ada yang hanya mau makan buah durian yang dagingnnya manis atau bahkan ada yang hanya menyukai durian yang dagingnya mpahit. Bahkan ada yang maniak durian sehingga menjadi “mblenger”. Nah, dalam keadaan keblenger ini akan muncul rasa mual, pusing, keringat dingin, pucat. Keadaan ini sangatlah tidak menyenangkan.

Konon nenek moyang berpesan setelah makan daging buah durian yang banyak, segeralah minum air (boleh yang belum dimasak) dengan menggunakan wadah dari kulit durian bagian cungkupnya (bagian dalam). Niscaya dengan mencoba cara ini akan bebas dari bahaya mabuk durian.

Mengatasi Bau

Masyarakat pada umumnya mengenal durian, tetapi belum tentu senang makan durian. Kadang kala tercium aromanya saja sudan pusing apalagi untuk mencicipi daging buahnya tidak akan bernah berhasil. Karena aromanya yang khas dan

melekat, maka orang sering kali menghindar bila dalam kendaraan (seperti mobil) ada penumpang yang membawa durian sebab baunya akan menyebar dan menyebabkan orang menjadi pusing, setelah duriannya tidak ada banunya masih tercium.

Bagi yang dapat menikmati aroma durian tidak ada masalah tetapi akan menjadi masalah jika makan durian lalu jari-jari tangannya tetap melekat aroma durian. Setelah dicuci bersih dengan sabun pembersih, tetap saja tidak dapat hilang baunya. Jika demikian orang juga akan kesal karena makan pisang tetapi aromanya durian.

Bagi yang maniak durian, jangan risau karena ada cara yang sangat mudah untuk mengatasinya. Tidak perlu menggunakan ramuan atau racikan jamu penghilang bau durian tetapi cukup dengan cara mencuci tangan dengan air tanpa menggunakan sabun atau bahan pencuci lainnya, cara ini sangat mudah dilakukan.

Asinan Durian (Tempoyak)

Penduduk di pedesaan mempunyai cara untuk mengatasi kelebihan durian yaitu membuat asinan buah durian (pongge), yang dilakukan adalah memisahkan daging buah durian dari bijinya lalu daging buah dimasukkan ke dalam wadah (tidak dari bahan yang mengandung aluminium) setebal ± 2 cm lalu diatasnya ditaburi garam halus dan gula pasir secara merata. Kemudian dilapisi lagi dengan daging buah durian yang telah dipisahkan dari bijinya setebal ± 2 cm dan diatasnya ditaburi garam halus dan gula pasirnya secara merata. Selanjutnya ditutupi dengan daging buah seperti yang telah dilakukan sebelumnya, sampai secukupnya (wadah jangan terlalu penuh) lalu permukaannya ditutup dengan daun pisang dan tutup rapat. Asinan dapat dinikmati setelah mengeluarkan aroma yang “harum”. Asinan durian oleh penduduk di Sumatera Selatan dinamakan Tempoyak. Pepatah mengatakan jika telah makan tempoyak, maka lupa akan kesusahan karena makan tempoyak dapat meningkatkan selera makan dan nikmat. Tetapi pepatah ini tentu saja berlaku untuk masyarakat yang telah terbiasa menikmati tempoyak. (Ano)

Pustaka :

Widianarko B., Pratiwi A.,Retnaningsih, 2000, Seri Iptek Pangan Volume 1: Teknologi, Produk, Nutrisi & Kemanan Pangan, Jurusan Teknologi Pangan - Unika Soegijapranata, Semarang

Eceng Gondok ( Eichhornia crassipes)

Eceng Gondok ( Eichhornia crassipes)

Di Indonesia, tanaman air ini kondang dengan nama eceng gondok. Termasuk salah satu tanaman air yang populer di Indonesia. Awalnya diatangkan dari Brasil oleh orang-orang Belanda sebagai tanaman hias. Tanaman yang mampu berkembang pesat ini kemudian dianggap sebagai gulma air.

Di Indonesia eceng gondok banyak ditemukan di Rawa Pening di Jawa Barat. Namun, dewasa ini banyak dimanfaatkan sebagai filter air dari polusi logam-logam berat. Bahkan sudah dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan dan pakan ternak.

Bunga tanaman ini tampil eksotis dengan warna ungu muda yang tersusun dalam malai dan hanya mekar untuk sehari saja. Biasanya terdiri dari 4 – 6 kuntum tiap tangkainya, daunnya berbentuk dengan ujung agak meruncing, warnanya hijau cerah dan permukaannya diselimuti lapisan lilin. Bentuk tangkai daun eceng gondok menggembung karena berisi rongga udara yang berfungsi sekaligus sebagai alat mengapung di air. Akarnya menggantung dan berambut, tumbuh memanjang kedalam air, perbanyakannya seperti pada apu – apu, yakni menggunakan runner. (Ano)

RELOKASI ASRAMA PUTRI KISRUH

RELOKASI ASRAMA PUTRI KISRUH

Para Srikandi Jurluhtan boleh berlega hati, pasalnya asrama yang baru kini sudah boleh ditempati. Tak pelak berbagai komentar dari para penghuni terlontar. Sebagian besar dari mereka mengeluhkan proses relokasi tersebut terkait dengan daya tampung asrama yang masih belum memadai. Namun demikian banyak dari yang lain menyambut positif relokasi itu karena dengan relokasi itu diharapkan tidak ada lagi kelompok-kelompok (geng2) yang dapat menyebabkan inkonsistensi antar mahasiswi yang selama ini terjadi.

Relokasi ini juga dilakukan dalam rangka pembenahan dan penertiban penghuni asrama terkait juga dengan proses akreditasi yang sedang berlangsung di Jurluhtan Yogyakarta.

Selamat bagi penghuni asrama baru semoga dengan adanya relokasi ini dapat meningkatkan kualitas kedisiplinan mahasiswi seperti harapan semua pihak.(Djo)

PRESTASI DIBALIK INTERVENSI

PRESTASI DIBALIK INTERVENSI

Andai saja saat ini mahasiswa STPP Jurluhtan Yogyakarta telah selesai pendidikan, pasti banyak pihak-pihak yang antri untuk merekrut mereka menjadi tenaga kerja. Meski mahasiswa belajar dalam intervensi kaidah pembelajaran kedinasan, tidak membuat mereka seperti mahasiswa lain di lingkup kedinasan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya prestasi yang telah mereka peroleh baik prestasi akademis maupun prestasi non akademis.

Liahat saja, dalam hal non akademis mereka mempunyai tim-tim olah raga, Mapala GEMPAR yang pernah menjuarai susur pantai tingkat nasional, Pers mahasiswa, dan Komunitas Teknologi Komputer (KTK). Dibidang akademis prestasi mereka tidak kalah bergengsi salah satunya menjuarai lomba penyuluhan pertanian dan jurnalistik diantara STPP seluruh Indonesia.

Tentu saja prestasi–prestasi tersebut layak mereka raih, mengingat mereka telah mendapat banyak pendidikan di luar kampus seperti pelatihan jurnalistik, studi islam aplikatif, pelatihan kepemimpinan dan lain-lain. Lebih hebat lagi, disaat belum banyak perguruan tinggi kedinasan yang menyediakan fasilitas internet, kampus mereka telah menyediakan internet secara gratis.

Melihat hal ini harapan tentang kemajuan pertanian yang di dukung oleh sumberdaya manusia pertanian yang handal sepertinya bukan hal yang tidak mungkin untuk terpenuhi. Semoga!. (Elang)

Geliat Bisnis para Calon Pegawai Negri

Geliat Bisnis para Calon Pegawai Negri

Keluarga besar STPP Jurluhtan Yogyarta boleh berbangga hati, mahasiswanya terbukti mampu menggunakan waktu luangnya untuk berlatih menjadi pebisnis handal. Harus diakui berbisnis merupakan sebentuk keahlian global yang dewasa ini mutlak dimiliki para manusia masa depan.

Siapa sangka, bertolak dari ilmu penyuluhan yang mereka pelajari, mereka mampu berbisnis dengan income satu juta rupiah dalam satu bulan. Tentu hal ini bukan berasal dari besarnya modal yang diinvestasikan namun berasal dari kemampuan dalam menganalisa peluang sekecil-kecilnya untuk diubah menjadi uang. Lihat saja, mereka berusaha dari sebagai tukang cukur, penyedia jasa layanan rumah tangga hingga jasa konsultasi tugas kuliah.

Tentu usaha ini telah melalui perhitungan yang matang. Para calon pegawai negeri yang seperti inilah yang siap berkerja sebagai alat pemerintah yang berdedikasi dan bertanggung jawab untuk membangun negeri. (elang)

MODEL PROBLEM SOLVING DAN KEMAMPUAN PROBLEM SOLVER (S)

MODEL PROBLEM SOLVING DAN KEMAMPUAN PROBLEM SOLVER (S)

Oleh : Miftakhul Arifin. MPd

Dimana pun kita berada akan menemukan problem, baik merupakan problem individu maupun problem sosial. Problem mengikuti kita dalam berbagai bidang, baik bidang teknik, ekonomi sosial yang kesemuanya merupakan kebutuhan hidup manusia. Kita dapat mengamati dalam sektor pertanian akan menemukan berbagai problem dan problem tersebut perlu dipecahkan atau diatasi.

Sebagai manusia normal dengan menghadapi problem pada umumnya akan terasa tidak mengenakkan karena dengan pengetahuannya merasakan problem merupakan suatu kenyatan yang menyimpang atau kesenjangan antara seharusnya dengan kenyataan yang terjadi. Secara difinisi memang problem merupakan kesenjangan antara das sain (kenyataan) dan das sollen (seharusnya). Naluri manusia akan mempertahankan hidup dengan mencoba untuk mengatasi segala masalah (problem) yang dihadapi semampu mungkin . kemampuan ini ditentukan berbagai factor yang ada pada diri manusia dan lingkungannya.

Menturut sejarah manusia dalam mengatasi masalah dilakukan dengan berbagai cara mulai dari yang kategori ilmiah sampai yang non-ilmiah. Kalu kita amati cara-cara manusia menangani problem yang ditimbulkan baik secara fisik seperti gejolak gunung berapi, banjir, gempa umi, maupun social dan budaya seperti krisis social sangat bervariasi dan ada yang tidak sengaja memang merupakan cara-cara ilmiah, namun banyak juga yang non-ilmiahseperti dengan sesaji dan lain-lain.

Sebagai manusia yang hidup pada jaman informasi dan teknologi,cara-cara penanganan masalah harus dihadapi secara ilmiah maka dengan sendirinya harus mrnguasai dan mempunyai kamampuan prolem solving sesuai dengan motede ilmiah.

Khususnya dalam bidang penyuluahn pertanian, seorang penyuluh yang hidup beserta petani bai secxara individu maupun kelompok, akan bertemu dengan berbagai problem. Problem-problem yang dihadapi bervariasi mulai dari yang sederhana sampai samapi yang komplek dan mulai dari yang bersifat tekni, ekonomi dan social serta mulai yang bersifat alam sektor pertanian. Barbagai problem ini sebagian harus dipecahkan segera dan ada yang harus ditunda atau bahkan ada yang dikesampingkan karena kurang urgen. Kesemuanya memerlukan skala prioritas utuk pemecahannya, sehingga semua problem idealnya ahrus dipecahkan semua.

Dalam kenyataan problem-problem yang dihadapi seorang penyuluh masih banyak yang belum terpecahkan karena berbagai factor seperti tingkat kemampuan problem solving bagi penyuluh, tingkat kekomplekan problem, partisipasi petani, peran instansi terkait, ketersediaan teknologi, dan lain sebagainya. Khususnya bagi penyuluh yang mempunyai peranan membantu problem solving bagi petani, harus mempunyai beragai kemampuan yang diperlukan untuk problem solving.

Untuk melakukan problem solving seorang atau kelompok orang sebagai problem solver harus memahami apa yang disebut sebagai problem solver serta ruang lingkup problem dan problem solving. Pemahaman ini sangat penting untuk mengenali, membasi dan merumuskan problem serta bagaimana cara memecahannya.

Problem solving menurut Feldusen (Tassel-Baska (ed), 1994 ) bahwa “ Problem solving is a comprehensive and complex set of cognitive operation that probably embracemany aspect of thinkingsubsumed under other rubrics such as creative thinking, critical thinking, decivison making and so on”. Pengertian ini memberikan pengertian bahwa problem solving merupakan penggunaan sebagaian besar pengetahuan dan pemikiran yang kompreshensif dan komplek, yang meliputi pemikiran yang kreatif dan kritis, pengambilan keputusan dan lain-lain.

Secara realitas problem solving tidak cukup hanya pada pemahaman konsep, namun melibatkan proses kegiatan. Proses problem solving dijelaskan oleh The Mayer Report (Harris et al., 1997) bahwa “problem soving is defined broadly to include identifiyingand framing the nature of problem and devising suitable strategies of response”. Pada garis besarnya dinyatakan bahwa proses problem solving meliputi mengidentifikasi dan membatasi sifat problem, serta memutuskan strategi pemecahan yang tepat.

Dalam menangani berbagai problem, manusia telahbanyak melakukan proses denga berbagai cara atau tahapan-tahapan yang bervariasi. Secara individu maupun kelompok mungkin merasa berhasil dengan caranya sendiri, tetapi mungkn saja tidak dapat diterapkan untuk orang lain. Model-model tahapan problem solving telah dikembangkan beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Model yang diajukan oleh Rubenstein (Tassel-Baska (ed.), 1994)

Model ini meliputi tahapan sebagai berikut :

a) Menggambarkan situasi problem pada keadaan awal

Keadaan awal ini dipandang sebagai problem yang mengarahkan pada kemampuan individual untuk membedakan atau melihat, merenacanakan dan/atau menyikapi situasi problem sebagai pendahuluan untuk mengantarkan ke formulasi goal dan melaksanakan tindakan.

b) Memformulasikan visi, solusi atau goal pada keadaan akhir

c) Melakukan proses atau tindakan untuk memperoleh goal yang telah direncanakan

2. Model yang diajukan Bayer (Tassel-Baska (ed.), 1994)

Model ini merupakan pengemabngan dari model yang sudah dilakukan sejak lama. Tahapan dari model ini meliputi sebagai berikut :

a) Tahap pengenalan suatu problem

b) Tahap penggambaran problem

c) Tahap pemikiran/pemilihan salah satu rencana solusi

d) Tahap pelaksanaan rencana

e) Tahap evaluasi solusi

3. Model yang dikembangkan oleh Bransford dan Stein (Tassel-Baska (ed.), 1994)

Model ini bersifat umum dab telah digunakan dalam skala lebih luas. Tahapan model ini menggunakan akronim IDEAL yaitu meliputi :

a) I = Identify a p[roblem or potential problem (mengidentifikasi problem atau problem yang potensial)

b) D = Define, delinate, or clarify the problem (menggambarkan, melukiskan, atau menjelaskan problem)

c) E = Explor option or approaches to solving the problem (s)(Mengekplorasi pilihan-pilihan atau pendekatan-pendekatan untuk memecahkan problem-problem)

d) A = Act or carry out the planned solution activities (melakukan kegiatan atau menyelesaikan kegiatan-kegiatan solusi yang telah direncanakan)

e) L = Look at the effect and evaluate the solution (mengamati efek-efek dan mengevaluasi solusi)

Model ini mendorong untuk berfikir divergent atau kreatif menyangkut langkah-langkah dan pekerjaan secara baik.

Model-model tahapan problem solving diatas dalam pelaksanaannya memerlukan kemampuan-kemampuan khusus dari problem solver (s), sehingga dapat berhasil dengan baik. Find report (Harris et al, 1997) telah mengidentifikasi kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk problem solving, yaitu meliputi :

1) Analysis

2) Critical thinking

3) Decision making

4) Creative thinking

5) Skill transfer to new concepts

Masing-masing kemampuan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Kemampuan menganalisa

Dalamp problem solving untuk menghasilkan keputusan diperlukan kemampuan untuk menganalisa problem, yaitu cara memecahkn problem menjadi komponen-komponen dan setiap komponen harus dipelajari secara seksama serta duhubungkan dengan komponen-komponen yang lain (Terry, 1993). Pengertian ini mirip dan mungkin sama dengan pembuatan pohon masalah, kemudian dianalisa satu persatu dan saling keterkaitannya. Dengan demikian seorang problem solver harus mampu menganalisa problem untuk memutuskan dan mengenal sifat-sifat problem.

2) Kemampuan berpikir kritis ( Critical thinking )

Menurut Ennis (Tassel Baska (ed), 1994) bahwa “Critical thinking as follows critical thinking is reflective and reasonable thinking thats focused on deciding what to believe or do ”. kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan bagi problem solver. Berpikir kritis merupakan kekuatan untuk melakukan pelacakan terhadap segala problem yang dihadapi dengan pertimbangan-pertimbangan yang logis.

3) Kemampuan mengambil keputusan (Decision making)

Griffin (1990) menjelaskan tentang decision making yaitu sebagai berikut : “Decision making is the act of choosing one alternative from among a set of alternatives”. Selanjutya dikatakan bahwa “Thedecision making process include recognizing and the defining the nature of a decision situation, identifying alternative,choosing the best alternative and putting it into practice ”. perkataan ”best” mengimplikasikan keefektifan dan pengambilan keputusan yang efectif memerlukan pemahaman terhadap situasi yang menghantarkan kearah keputusan. Kemampuan pengambilan keputusan yang tepat sangat diperlukan untuk problem solving, karena akan menghadapi berbagai alternatif, baik yang menyangkut problem maupun cara pemecahannya.

4) Kemampuan berpikir kreatif ( Creative thinking )

Berpikir kreatif atau divergent sebenarnya dimiliki oleh semua orang, namun mempunyai derajat yang berbeda, ada yang pada tataran tinggi dan yang lain pada tataran rendah. Menurut Mac Kuinon (Jalaludin Rakhmat, 1988), berpikir kreatif harus memenuhi tiga syarat yaitu :

a. Kreatif dalam memberikan tanggapandan gagasan baru

b. Kreativitas dalam memecahkan masalah secara realitas

c. Kreativitas dalam usaha melakukan pengamanan yang orisinil, menilai dan mengembangkan sebaik mungkin.

5) Kemampuan mentransfer konsep baru ( Skill transfer to new concepts )

Kemampuan ini merupakan bagian dari kemampuan inovativ. Menurut Terry (1993), Innovating mencakup pengembangan gagasan baru, mengkombinasikan gagasan baru dengan yang lama, mencari gagasan dari kegiatan lain dan melaksanakannya, atau memberi stimuli kepada rekan-rekan untuk mengembangkan dan mengetrapkan gagasan baru dalam kegiatannya. Kemampuan ini sangat penting untuk menjelajahi IPTEK yang adadanmemperkaya alternative cara-cara pemecahan masalah.

Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa kondisi penyuluhan pertanian semakin banyak menghadapi permasalahan,maka seorang penyuluh pertanian harus dapat menguasai dan memiliki kemampuan untuk melakukan problem solving. Dalam proses atau model problem solvin banyak memberikan alternative, sehingga penyuluh harus menguasai konsep problem solving dan kreatif dalam penerapannya sehingga tepat sasaran.

Daftar Pustaka

Griffin, R. W. (1990).management (3rd ed.). Boston : Houghton Mifftlin Company.

Harris, R. et al (1997). Competencies based education nad training : Between a rock and a whirpool. Australia : Mac Millan Education Australia PTY, Ltd.

Jalaludin Rakhmat (1988). Psikologi Komunikasi. Bandung : Penerbit Remaja Karya CV Bandung.

Tassel-Baska, J. Van (Ed.) (1994). Conprehensive Curriculum For Gifted Learners (Second ed.). Massachusetts: Allyn andBacon A. Devision of Simon & Schuster Inc.

Terry, G. R (1993). Prinsip-prinsip Manajemen (Terjemahan dari J.Smith D. F. M.). Jakarta : Bumi Aksara.

MENJADI PENGUSAHA ITU MUDAH

MENJADI PENGUSAHA ITU MUDAH

(Oleh : FX. Agus)

Departemen Pertanian pada tahun 2007 membuka kesempatan bagi kelulusan perguruan tinggi jurusan pertanian, mulai dari S1, D4, D3 bahkan lulusan SPMA untuk menjadi penyuluh bantu. Lama bekerja bagi penyuluh bantu hanya satu tahun, dan setelah selesai kontrak tidak ada kewajiban bagi departemen pertanian untuk mengangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Jumlah penyuluh bantu yang dibutuhkan adalah 6000 orang sedang jumlah pelamarnya lebih dari 50.000 orang. Dari data tersebut minimal ada 2 kesimpulan, yaitu:

1 Ternyata masih banyak lulusan dari pendidikan pertanian yan belum memiliki pekerjaan.

2 Bekerja dilingkungan pemerintah masih menjadi idola banyak orang terutama para lulusan perguruan tinggi.

Banyaknya minat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga dapat dilihat dari penerimaan pegawai tahun 2004. Pada saat itu pemerintah membuka lowongan kerja sebagai PNS sebanyak 204.584 orang, sedang jumlah pelamarnya mencapai 4,5 juta peserta (Mas’ud, 2005).

Kebanyakan seseorang yang sudah lulus dari perguruan tinggi lebih senang memfoto copy ijazahnya dan membuat lamaran sebanyak-banyaknya untuk dikirim keberbagai instansi baik pemerintah maupun swasta. Hasilnya sudah bisa ditebak, yaitu nol besar alias ditolak karena tidak ada lowongan pekerjaan.

Dulu, ada anggapan masyarakat bahwa jika kita kuliah, akan lebih mudah meraih pekerjaan. Namun, dalam konteks saat ini anggapan itu banyak dipertanyakan. Menurut catatan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi DIY jumlah pengangguran lulusan S1 sebanyak 18.284 orang (2003) sedangkan pada tahun 2005 jumlahnya menjadi 45.050 atau mengalami peningkatan 146,2 persen. ( Kedaulatan Rakyat, 2006).

Untuk menjadi pegawai, entah pegawai pemerintah atau swasta, seseorang harus membuat lamaran dengan berbagai pesyaratan yang lain, ikut antri berdesak-desakan, mengikuti ujian persaringan, menunggu pengumuman yang hasilnya belum tahu diterima atau tidak. Padahal ada lowongan pekerjaan yang buka 24 jam penuh untuk memasukinya tidak perlu membuat lamaran, lowongan itu tidak lain ialah menjadi pengusaha. Seseoarang menjadi pengusaha, cukup modal keberanian, memutuskan usaha apa yang akan ditekuni, esok paginya sudah pesan kartu nama, dengan jabatan apa maunya, apakah direktur apakah pimpinan perusahaan. Pada saat itu dia sudah menjadi direktur sekaligus karyawan inti.

Keluhan yang sering disampaikan oleh orang yang akan memulai usaha adalah ketiadaan modal, padahal pengertian modal bukan semata-mata uang. Memang harus diakui memulai usaha dengan modal uang yang cukup lebih cepat berkembang dibanding memiliki modal yang pas-pasan.

Modal dapat berupa ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari selama sekolah. Masalahnya adalah mampu tidak merubah ilmu dan keterampilan yang dimiliki itu menjadi modal untuk memulai berusaha.

Seorang calon penyuluh yang dididik memiliki keterampilan berkomunikasi, dapat digunakan untuk menyakinkan orang lain bahwa ia memiliki kemampuan, pengetahuan dan keterampilan, sehingga orang yang memilik modal percaya dan memberi pinjaman untuk berusaha.

Memiliki teman yang banyak juga merupakan modal. Siapa tahu diantara teman-teman itu ada yang sudah memiliki usaha dan mau membantu untuk memberi pinjaman modal.

Keluhan lain yang timbul adalah tidak punya tempat usaha. Bukankah ada orang lain yang memiliki tempat usaha. Siapa tahu dapat diajak bekerjasama dengan sistem pembagian keuntungan atau disewa.

Kejujuran, atau integritas sebenarnya juga merupakan modal yang sangat luar biasa terutama bagi mereka yang ingin memulai usaha tetapi tidak memiliki modal alias modal dengkul. Menurut Baharudin(2002), banyak pengusaha sukses karena memiliki citra diri yang baik sebagai modal utama.

Jadi yang diperlukan sesorang untuk memulai usaha itu sebenarnya adalah keberanian-keberanian memulai, keberanian mementukan jenis usaha, selanjutnya tergantung bagaimana kita mengelola usaha tersebut. Untuk menjadi pengusaha yang dibutuhkan hanya ide dan kemampuan menyakinkan orang lain (Waringin, 2006). Tidak punya modal, pakai modal orang lain. Tidak punya ide pakai ide orang lain. Tidak punya tempat berusaha dapat menggunakan modal orang lain. Bahkan tidak punya dengkul pun dapat memakai dengkul orang lain. Sebuah hadist menyatakan ‘ Sembilan pintu rejeki berasal dari perdagangan dan hanya satu pintu rejeki yang berasal dari menjadi pegawai.

Daftar Pustaka

Andreas Hareta, 2004. Berwirausahta Dari Nol, 10 Kiat Sukses Dengan Modal Seadanya. Jakarta, Gramedia Pustaka

Burhanuddin Abe, 2002. 50 Usahawan Tahan Banting, Kiat Sukses Dimasa Krisis Jakarta, Tajuk.

Hicks, TG, 1994. Sukses Merintis Dengan ’’Modal Dengkul’’, alih bahasa : PT. Dinastindo Adiperkasa International, Penerbit Abdi Tendur, Jakarta

Kiyosaki, R dan Leacher, 2003. Rich Dad And Poor Dad, alih bahasa : J Dwi Helly Purnomo, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Lim, Billi PS, 2003. Berawal Gagal, Alih Bahasa : Drs. Suharsono, PT Pustaka Delaprosta Jakarta

Mas’ud Chasan, 2005. Sukses Bisnis Modal Dengkul, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Waringin, TD, 2006. Finacial Revolution, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

MEMBANGUN SISTEM AGRIBISNIS

MEMBANGUN SISTEM AGRIBISNIS

R.Hermawan, SP,MP*)

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan industri yang didukung oleh pertanian yang tangguh menjadi titik berat pembangunan ekonomi nasional. Disini muncul pertanyaan besar, bagaimana wujud pembangunan industri yang didukung pertanian tangguh. Disini dapat diartikan bahwa industri yang perlu dikembangkan adalah industri-industri yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, yakni agroindustri. Kemudian, pertanian primer tidak akan mampu berkembang bila tidak didukung oleh pengembangan industri-industri yang menghasilkan sarana produksi (industri hulu pertanian).

Agroindustri, pertanian primer dan industri hulu pertanian tidak dapat berkembang dengan baik bila tidak didukung oleh sektor atau lembaga yang menyediakan jasa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, pembangunan agroindustri, pertanian primer, industri hulu pertanian dan sektor/lembaga pendukung harus dilakukan secara simultan dan harmonis. Dari hal tersebut diatas perlu adanya harmonisasi pelaksanaan dalam rangka pengembangan dari masing-masing subsistem dalam pengembangan agribisnis.

B. AGRIBISNIS SEBAGAI SUATU SISTEM

Agribisnis sebagai suatu sistem merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Disini dapat diartikan bahwa agribisnis terdiri dari berbagai sub sistem yang tergabung dalam rangkaian interaksi dan interpedensi secara reguler, serta terorganisir sebagai suatu totalitas. Adapun lima mata rantai atau subsistem dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi

Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk (apa yang diinginkan calon pembeli) serta terjangkau oleh daya beli petani.

b. Subsistem Usahatani atau Proses Produksi

Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer.

c. Subsistem Agroindustri/Pengolahan Hasil

Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana ditingkat petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut.

d. Subsistem Pemasaran

Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama sub sistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.

e. Subsistem Penunjang

Sub sistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi :

  • Sarana Tataniaga
  • Perbankan/perkreditan
  • Penyuluhan Agribisnis
  • Kelompok tani
  • Infrastruktur agribisnis
  • Koperasi Agribisnis
  • BUMN
  • Swasta
  • Penelitian dan Pengembangan
  • Pendidikan dan Pelatihan
  • Transportasi
  • Kebijakan Pemerintah

C. STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM AGRIBISNIS

  1. Pembangunan agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis. Hal ini dapat diartikan bahwa perkembangan pertanian, industri dan jasa harus saling berkesinambungan dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
  2. Membangun agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas keunggulan komparatif yaitu melalui transformasi pembangunan kepada pembangunan yang digerakkan oleh modal dan selanjutnya digerakkan oleh inovasi. Sehingga melalui membangun agribisnis akan mampu mentransformasikan perekonomian Indonesia dari berbasis pertanian dengan produk utama (Natural resources and unskill labor intensive) kepada perekonomian berbasis industri dengan produk utama bersifat Capital and skill Labor Intesif dan kepada perekonomian berbasis inovasi dengan produk utama bersifat Innovation and skill labor intensive.
  3. Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan harmonis. Oleh karena itu untuk menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang berkaitan dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi, BUMN dan swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi keharmonisan Sistem Agribisnis.
  4. Menjadikan Agroindustri sebagai A Leading Sector. Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) bagi kegiatan agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan yang memasarkan produk akhir agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang menyediakan bahan baku (input) lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan kimia, bahan kemasan, dll beserta kegiatan ekonomi yang memasarkan dan memperdagangkannya.
  5. Membangun sistem agribisnis melalui pengembangan Industri Perbenihan

Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan atribut produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis seperti atribut nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk bahan pangan seperti kandungan logam berat, residu pestisida, kandungan racun juga ditentukan pada industri perbenihan. Untuk membangun industri perbenihan diperlukan suatu rencana strategis pengembangan industri perbenihan nasional.

  1. Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.

Dalam rangka memodernisasi agribisnis daerah, perlu pengembangan banyak jenis dan ragam produk industri agro-otomotif untuk kepentingan setiap sub sistem agribisnis. Berbagai macam Industri mesin perontok biji-bijian, pengering biji-bijian, mesin pengiris, mesin penggiling, pengaduk, mesin pemotong yang banyak diperlukan di daerah. Untuk kondisi di Indonesia yang permasalahannya adalah skala pengusahaan yang relatif kecil, tidak ekonomis bila seorang petani memiliki produk agro-otomotif karena harganya terlalu mahal. Oleh karena itu perlu adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau perusahaan agro-otomotif itu sendiri.

  1. Dukungan Industri Pupuk dalam Pengembangan sistem agribisnis.

Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem Networking baik vertikal(dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan pupuk), yaitu dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu dimana yang sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah.

  1. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui Reposisi Koperasi Agribisnis.

Perlu adanya perubahan fungsi/paradigma Koperasi Agribisnis, yaitu untuk:

· Meningkatkan kekuatan debut-tawar (bargaining position) para anggotanya.

· Meningkatkan daya saing harga melalui pencapaian skala usaha yang lebih optimal.

· Menyediakan produk atau jasa, yang jika tanpa koperasi tidak akan tersedia.

· Meningkatkan peluang pasar

· Memperbaiki mutu produk dan jasa

· Meningkatkan pendapatan

· Menjadi Wahana Pengembangan ekonomi rakyat

· Menjadikan koperasi sebagai Community based organization, keterkaitan koperasi dengan anggota dan masyarakat sekitar merupakan hal yang paling esensial dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

· Melakukan kegiatan usaha yang sejalan dengan perkembangan kegiatan ekonomi anggota.

· Perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya terutama menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya sebagai koperasi agribisnis.

  1. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi agribisnis. Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi, dan informasi pengolahan serta informasi pasar.
  2. Tahapan pembangunan cluster Industri Agribisnis.

Tahapan pembangunan sistem agribisnis di Indonesia:

1. Tahap kelimpahan faktor produksi yaitu Sumberdaya Alam dan Tenaga Kerja tidak terdidik. Serta dari sisi produk akhir, sebagian besar masih menghasilkan produk primer. Perekonomian berbasis pada pertanian.

2. Akan digerakkan oleh kekuatan Investasi melalui percepatan pembangunan dan pendalaman industri pengolahan serta industri hulu pada setiap kelompok agribisnis.

3. Tahap pembangunan sistem agribisnis yang didorong inovasi melalui kemajuan teknologi serta peningkatan Sumberdaya manusia.

  1. Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah

Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan industri berbasis Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi di setiap daerah.

  1. Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.

Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai lembaga pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim pembiayaan dari perbankan akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Selama ini yang terjadi adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah, khususnya pada on farm agribisnis. Kecilnya alokasi kredit juga disebabkan dan diperparah oleh sistem perbankan yang bersifat Branch Banking System.

  1. Pengembangan strategi pemasaran

Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya terutama menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahan, keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai mengubah paradigma pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar (konsumen). Sehingga dengan berubahnya paradigma tersebut, maka pengetahuan yang lengkap dan rinci tentang preferensi konsumen pada setiap wilayah, negara, bahkan etnis dalam suatu negara, menjadi sangat penting untuk segmentasi pasar dalam upaya memperluas pasar produk-produk agribisnis yang dihasilkan.

  1. Pengembangan sumberdaya agribisnis. Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor pengembangan agribisnis.
  2. Penataan dan pengembangan struktur Agribisnis. Struktur agribisnis yang tersekat-sekat telah menciptakan masalah transisi dan margin ganda. Oleh karena itu penataan dan pengembangan struktur agribisnis nasional diarahkan pada dua sasaran pokok yaitu:

· Mengembangkan struktur agribisnis yang terintegrasi secara vertikal mengikuti suatu aliran produk (Product Line) sehingga subsektor agribisnis hulu, subsektor agribisnis pertanian primer dan subsektor agribisnis hilir berada dalam suatu keputusan manajemen.

· Mengembangkan organisasi bisnis (ekonomi) petani/koperasi agribisnis yang menangangani seluruh kegiatan mulai dari subsistem agribisnis hulu sampai dengan sub sistem agribisnis hilir, agar dapat merebut nilai tambah yang ada pada subsistem agribisnis hulu dan subsistem agribisnis hilir.

Dalam penataan tersebut, ada 3 bentuk :

1. Pengembangan koperasi agribisnis dimana petani tetap pada subsektor agribisnis usahatani, sementara kegiatan subsektor agribisnis hulu dan hilir ditangani koperasi agribisnis milik petani.

2. Pengembangan Agribisnis Integrasi Vertikal dengan pola usaha patungan (Joint Venture). Pada bentuk ini pelaku ekonomi pada subsektor hulu, primer dan hilir yang selama ini dikerjakan sendiri-sendiri harus dikembangkan dalam perusahaan agribisnis bersama yang dikelola oleh orang-orang profesional.

3. Pengembangan Agribisnis Integratif Vertikal dengan pola pemilikan Tunggal/Grup/Publik, yang pembagian keuntungannya didasarkan pada pemilikan saham

  1. Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis. Perlu perubahan orientasi lokasi agroindustri dari orientasi pusat-pusat konsumen ke orientasi sentra produksi bahan baku, dalam hal ini untuk mengurangi biaya transportasi dan resiko kerusakan selama pengangkutan. Oleh karena itu perlu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis komoditas unggulan yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas agribisnis, potensi perkembangan dan kawasan kerjasama ekonomi. Serta berdasar Keunggulan komparatif wilayah. Perencanaan dan penataan perlu dilakukan secara nasional sehingga akan terlihat dan terpantau keunggulan setiap propinsi dalam menerapkan komoditas agribisnis unggulan yang dilihat secara nasional/kantong-kantong komoditas agribisnis unggulan, yang titik akhirnya terbentuk suatu pengembangan kawasan agribisnis komoditas tertentu.

  1. Pengembangan Infrastruktur Agribisnis. Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan pengembangan Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara), jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor dan lain-lain.

  1. Kebijaksanaan terpadu pengembangan agribisnis. Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.

· Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat perusahaan.

· Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha sejenis.

· Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnisyang mengatur keterkaitan antara beberapa sektor.

· Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.

Beberapa kebijaksanaan operasional untuk mengatasi masalah dan mengembangkan potensi, antara lain:

1. Mengembangkan forum komunikasi yang dapat mengkoordinasikan pelaku-pelaku kegiatan agribisnis dengan penentu-penentu kegiatan agribisnis dengan penentu-penentu kebijaksanaan yang dapat mempengaruhi sistem agribisnis keseluruhan, atau subsistem didalam agribisnis.

2. Forum tersebut terdiri dari perwakilan departemen terkait.

3. Mengembangkan dan menguatkan asosiasi pengusaha agribisnis.

4. Mengembangkan kegiatan masing-masing subsistem agribisnis untuk meningkatkan produktivitas melalui litbang teknologi untuk mendorong pasar domestik dan internasional.

  1. Pengembangan agribisnis berskala kecil. Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:

· Farming Reorganization

Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha yang menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi manajemen usahatani. Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang rata-rata kepemilikan hanya 0,1 Ha.

· Small-scale Industrial Modernization

Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen, serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.

· Services Rasionalization

Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga penunjang kegiatan agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing lembaga tersebut. Terutama adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga litbang khususnya penyuluhan.

  1. Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan. Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor pendukung pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial dan berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini perlu reorientasi peran penyuluhan pertanian yang merupakan lembaga pembinaan SDM petani. Oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan formal, kursus singkat, studi banding. Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama ini sebagai lembaga penyuluhan agro-teknis, menjadi KLINIK KONSULTASI AGRIBISNIS
  2. Pemberdayaan sektor agribisnis sebagai upaya penaggulangan krisis pangan dan Devisa. Perlu langkah-langkah reformasi dalam memberdayakan sektor agribisnis nasional, yaitu:

· Reformasi strategi dan kebijakan industrialisasi dari industri canggih kepada industri agribisnis domestik.

· Kebijakan penganekaragaman pola konsumsi berdasar nilai kelangkaan bahan pangan.

· Reformasi pengelolaan agribisnis yang integratif, yaitu melalui satu Departemen yaitu DEPARTEMEN AGRIBISNIS

· Pengembangan agribisnis yang integrasi vertikal dari hulu sampai hilir melalui koperasi agribisnis.